MANAJEMEN MARAH
Oleh Fira Afiyanthy
"Sesungguhnyaa
marah itu bara api yang dapat membakar lambung anak adam.
Ingatlah bahwa sebaikbaik
orang adalah orang yang melambatkan (menahan) amarah dan mempercepat keridhaan,
dan sejelek-jelek orang adalah orang yang
mempercepat amarah dan dan melambatkan ridha" (HR. Ahmad dari Abu Sa'
id al-Khudriy)
Ketika ada yang bertanya, apakah anda
pernah marah, pasti semua dari kita akan menjawab
pernah. Tapi jika pertanyaannya diubah menjadi apakah anda akan marah bila melihat si kecil menumpahkan dan mengacak-acak
makanan dilantai yang baru saja anda sapu dan pel? Jawabannya, pasti
beragam. Mungkin sebagian dari kita akan menjawab "jelas marah lah
!!", dan sebagian yang lain akan menjawab "namanya juga, anak kecil,
kenapa harus marah?", atau mungkin sebagian yang lain akan menanggapi
dengan keragu-raguan antara, marah dan tidak.
Marah, menurut Imam Al-Ghazali, dalam
bukunya yang terkenal, Ihya Ulumuddin, pad hakikatnya merupakan gejolak hati
yang mendorong agresifitas. Energi marah ini meledak untuk mencegah timbulnya
hal-hal negatif juga untuk melegakan jiwa dan sebagai pembalasan akibat hal-hal
negatif yang telah menimpa seseorang.
Menurut Linda L
Davidof, dalam bukunya Introduction to Psychology, marah adalah
suatu emosi yang mempunyai ciri-ciri aktivitas sistem syaraf simpatetik yang tinggi, dan adanya perasaan tidak suka yang amat
kuat yang disebabkan adanya kesalahan, yang mungkin nyata salah atau
mungkin pula tidak.
Bila kita lihat dari definisi yang
diberikan oleh Linda diatas, kemarahan atau marah sangat tergantung dari
persepsi orang yang bersangkutan. Artinya kemarahan yang dirasakan oleh kita akan berbeda dengan kemarahan
yang dirasakan oleh orang lain dan atau suatu stimulus bisa menimbulkan
kemarahan bagi satu individu tetapi belum tentu menimbulkan kemarahan bagi individu lainnya. Karena stimulus tersebut
bisa dianggap sebagai suatu kesalahan bagi seseorang tetapi tidak bagi
yang lainnya.
Pada umumnya marah mendorong seseorang
pada tingkah laku agresif, seperti mengumpat, memukul, menendang, membanting,
bahkan jika diteruskan pada tingkat yang lebih ekstrim prilaku ini dapat
mengarah pada tindak kriminal seperti melukai, menyiksa atau bahkan membunuh.
Tetapi, tentu saja ekspresi marah tidak selalu dalam bentuk tingkah laku
agresif, karena pada sebagian orang marah ditunjukan dengan cara yang
berlawanan dengan agresi seperti diam, mengurung diri, murung, atau menangis.
Tiga Karakter Marah
Menurut
Dr. Setiawan Budi Utomo (Anggota Dewan Syari'ah Nasional MUI), paling
tidak, ada tiga karakter marah dalam Islam.
Pertama, yaitu rendah, dimana kemarahan yang mempunyai tingkat ekstrim rendah ini
ditandai dengan ketidak mampuan seseorang untuk marah, pun disaat yang
sebenarnya mengharuskan orang tersebut marah. Seperti saat menghadapi
kemungkaran dan musuh-musuh Allah. (QS. AL-Fath: 29 dan At-Taubat:73).
Yang kedua dari karakter marah adalah
tinggi. Kemarahan yang mempunyai tingkat ekstrim yang berlawanan dengan yang
pertama ini ditandai dengan adanya sifat marah yang tidak terkontrol dan keluar dari akal sehat serta norma agama.
Suatu hal yang sepele bisa menimbulkan kemarahan yang sangat bagi orang
yang memiliki karakter kedua ini. Atau dalam Psikologi disebut sebagai
orang tempremental.
Yang terakhir dan
yang paling baik adalah karakter marah moderat. yaitu suatu sikap yang terpuji yaitu tetap berada
dalam kendali akal sehat dan kesadaran agama, sekalipun dalam keadaan marah.
Kiat
Mengendalikan Marah
Meluapkan kemarahan
apalagi yang berlebihan, merupakan salah satu ekspresi memanjakan ego yang
cenderung bersifat negatif, atau dalam al-Qur'an sering disebut dengan nafsu amarah (QS. Yusuf.53). Kita sering
beranggapan bahwa dengan meluapkan
kemarahan, kita akan melegakan kemarahan, padahal sebenarnya yang terjadi
sering kali membuat orang yang bersangkutan tidak dapat mengontrol dirinya.
Dilihat dari aspek
medis menurut para pakar, kemarahan dapat menimbulkan hipertensi, maag, gaugguan fungsi jantung, insomnia,
kelelahan bahkan serangan jantung. Dalam konteks psiko social,
luapan kemarahan mungkin dapat "menenangkan atau melegakan", tetapi
efek lain dari luapan ini adalah dapat memutuskan tali cinta kasih,
silaturahmi, dan mengacaukan komunikasi yang terjalin. Seseorang
yang marah cenderung mengedepankan nafsunya
dan mengesampingkan akal sehat dan agama. Maka berhati-hatilah karma ledakan amarah dapat menimbulkan permusuhan
dan berefek buruk terhadap kesehatan mental kita.
Ada beberapa kiat untuk mengendalikan
amarah, antara lain adalah:
· Memaafkan, sikap
lembut dan tegar dengan mengharap ridha dan balasan baik dari Allah (QS. Al-Alraf.199,
Ali Imran:134)
· Mengingat qishas di akherat, jika kita
melampiaskan kemarahan. Riwayat Abu Ya'la ketika merasa kesal dengan Washif
yang lambat melaksanakan tugas. Rasulullah menegurnya secara bijak seraya berkata, " Kalaulah tidak mencemaskan pembalasan
di akhirat, niscaya aku beri engkau pelajaran"
· Mengingat pesan
nabi dalam hadits Abu Dawud, " Duduk ketika sedang berdiri, tiduran ketika sedang duduk,
jika masih marah, berwudhu atau mandilah dengan air dingin"
· Memikirkan
kembali dengan tenang, tentang faktor yang menjadi pemicu marah, apakah memang sepatutnya
disikapi dengan marah atau tidak.
· Tersenyum. Cobalah
bercermm saat anda marah, dan lihatlah betapa jeleknya anda ketika
marah dan tersenyumlah, percaya atau tidak, kemarahan yang anda, rasakan akan sirna perlahan-lahan.
· Positif thinking
(husnudzon) dan mencoba memahami alasan sikap dan prilaku orang lain.
· Berlatih menunda
amarah, dengan tidak mealampiaskan marah secara spontan dan refleks
· Coba dekatkan diri secara fisik kepada
seseorang yang anda cintai disaat anda marah untuk
menetralisir kemarahan. Misalnya dengan menggenggam tangannya. Kiat ini juga
bisa kita gunakan untuk meredam kemarahan orang yang kita cintai pada kita.
· Diam dan dengarkan
· Ungkapkan kemarahan dengan tulisan.
·
Komunikasi
dan proaktif. Jangan harap orang lain dapat membaca fikiran kita atau
mengetahui apa yang kita inginkan
· Membaca taawwudz
seraya berdoa kepada Allah agar terhindar dari provokasi syetan dan jebakan fitnah
yang menyesatkan." Allahumma Rabban Nabi Muhammad, ighfirlii dzambi wa
adzbib ghaiddha qoIbii wa ajimii min mudhilatil fitan".
Ungkapkanlah
kekesalan kita dengan tetap mengendalikan diri. Orang yang kuat
menurut Islam bukanlah orang yang menakutkan ketika marah, melainkan orang yang mampu mengendalikan diri ketika marah
sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu
Hurairoh," Bukanlah disebut kuat orang yang pandai bergulat.
Sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika ia
marah"
Akhirnya, mari kita
tingkatkan terus keimanan kita kepada Allah dengan mendekatkan diri pada-Nya. Karena letak iman berada di hati sedangkan
hati bersifat tidak tetap, maka selain itu jangan pula kita pernah lupa
untuk terus memanjatkan doa pada Allah ta'ala, karena setiap tindakan/usaha
tanpa dibarengi doa adalah ketakaburan dan sebaliknya doa tanpa dibarengi
dengan usaha adalah kemalasan (Allah tidak akan mengubah keadaan seseorang kecuali orang itu yang mengubah dirinya
dengan berusaha). Doa adalah usaha dan
usaha adalah doa. Keduanya tak dapat dipisahkan dalam suatu pencapaian
yang besar.
"Ya Lathif,
lembutkanlah hati kami, sehingga menjadi lembut pula setiap tindakan yang
kami lakukan. Lembutkanla hati kami untuk mudah menerima setiap ketetapan-Mu,
lembutkanlah hati kami untuk mudah menerima segala perintah-Mu, sehinggga ia
dapat kami jadikan sebagai penerang dalam hidup, sebagai pembimbing dalam
langkah kami.
Ya Lathif, lembutkanlah hati kami, agar
kami dapat memahami dan menjalani takdirmu dengan keikhlasan dan kelapangan
Karena tiada yang dapat membuatnya menjadi lapang selain Engkau wahai menguasa
jagad.
Ya Ghofar, ampunilah segala dosa kami
dan kedua orang tua kami, ampunilah segala kehilafan
dan kemarahan yang pernah kami lakukan, kemarahan yang pernah kami luapkan pada kedua orang tua kami, kemarahan yang pernah
kami luapkan pada suami kami, anak-anak tak berdosa kami, teman-teman
kami, tetangga-tetangga kami, guru-guru kami, murid-murid kami dan
yang lainnya.
Ya Shabur, berikanlah kesabaran pada
kami dalam menghadapi setiap cobaan yang engkau berikan, sehingga tidak ada
kemarahan dalam menghadapi cobaan tersebut.
Ya Muqalibal Qulub,
tetapkanlah hati kami, tetapkan ia untuk tetap komitmen dalam ikatanMu, tetapkan ia untuk terus mencari ridhaMu,
sehingga setiap detik dari waktu yang kami
lalui, setiap desah dari nafas yang terbuang, setiap tapak dari jalan yang kami
susuri adalah ladang amal kebaikan,
tetapkanlah hati kami, tetapkanlah ia pada jalan yang telah kau gariskan, tetapkanlah
ia berpegang pada Qur'an dan SunahMu, sehingga kami tidak akan sesat pada jalan
yang salah. Bersihkanlah ia dari penyakit-penyakit yang akan menggerogoti
keimanan kami
Ya Lathif, Ya Ghofar, Ya Shobur, Ya
Muqolibal qulub, Amien Ya robbal `alamin.
Komentar
Posting Komentar